SITUBONDO – Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau Mas Rio menegaskan sikap politiknya terkait dorongan maju sebagai calon gubernur Jawa Timur pada Pilkada 2029 mendatang.
Bupati yang karib disapa Mas Rio itu menegaskan akan mengikuti dawuh atau arahan Kiai Kholil As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Situbondo.
“Saya ini sudah masrahkan diri kepada Kiai Kholil,” kata Mas Rio saat live TikTok pada Rabu (23/9/2026) pagi.
Pernyataan itu disampaikan di tengah semakin banyaknya dorongan agar dirinya maju dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2029 mendatang.
Namun, Mas Rio tidak langsung menyatakan kesediaan. Selain masih menunggu arahan kiai, Mas Rio juga mengungkap persoalan biaya politik yang menurutnya menjadi pertimbangan penting.
Orang nomor satu di Situbondo itu bahkan secara terbuka mengatakan dirinya tidak memiliki modal untuk mengikuti kontestasi sebesar Pilgub Jawa Timur.
“Ramai sekarang yang minta jadi gubernur. Buat Pilkada kemarin sudah habis, kok sekarang disuruh nyalon gubernur. Saya enggak punya uang,” katanya.
Pilkada Situbondo Gotong Royong
Mas Rio kemudian menceritakan pengalaman pembiayaan saat Pilkada Situbondo. Menurut dia, perjuangan tersebut tidak hanya menggunakan uang pribadi.
Para kiai, santri dan relawan disebut ikut bergotong royong. Bahkan, ia menyebut Kiai Kholil turut mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pembentukan tim dan konsumsi selama proses Pilkada.
“Kiai-kiai di kampung-kampung, santri-santri itu urunan, relawan-relawan urunan, bikin kaos sendiri,” tuturnya.
Ia mengatakan seluruh biaya yang telah dikeluarkan dalam Pilkada tersebut sudah diikhlaskan dan tidak berharap kembali.
“Yang saya keluarkan saya ikhlaskan semuanya. Kembali? Enggak bakal kembali, enggak mungkin kembali,” ucapnya.
Bagi Mas Rio, pengorbanan tersebut tergantikan melalui kesempatan membantu masyarakat selama menjabat sebagai bupati.
Ia mencontohkan bedah rumah, membantu warga serta pembangunan jalan di sejumlah lokasi yang sebelumnya belum tersentuh pembangunan.
Menurut Mas Rio, jabatan politik juga memberinya ruang untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil dan warga miskin.
Politik sebagai Jalan Pengabdian
Mas Rio menyebut politik dan pemerintahan sebagai jalan pengabdiannya. Ia mengaku tidak bisa mengabdikan diri melalui jalan lain seperti mengajar mengaji atau menjadi ustaz.
“Saya disuruh morok (mengajar ngaji) tak bisa, jadi ustaz tak bisa. Ya cari pahala dengan cara seperti ini sudah. Tempat saya ya di sini, di politik,” katanya.
Ia kemudian menegaskan prinsip yang menjadi pegangannya dalam menjalankan pemerintahan.
“Kennengnga kennenge, lakona lakoni, opana openi. Tempatnya saya di sini, di politik, di pemerintahan. Kerjanya melayani masyarakat,” pungkasnya.[]