Agrowisata Alpukat SGF Situbondo, Lahan Gersang Disulap Jadi Sumber Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 19:46:09 WIB

SITUBONDO — Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menilai pengembangan agrowisata berbasis kewirausahaan Sampean Green Farm (SGF) yang terletak di Desa Kotakan, Situbondo, sebagai contoh konkret pemanfaatan lahan marginal yang berhasil.

Bupati yang akrab disapa Mas Rio itu menuturkan, lahan seluas sekitar 1,4 hektare tersebut sebelumnya merupakan kawasan bekas banjir yang dinilai tidak produktif secara ekonomi.

“Dulu ini lahan bekas banjir, tidak produktif dan sulit diperjualbelikan. Tapi di tangan orang-orang kreatif yang punya entrepreneur mindset, akhirnya menjadi sumber daya buah-buahan yang luar biasa,” kata Rio saat berkunjung ke lokasi SGF pada Jumat (2/1/2026).

Humas SGF, Suherman, menyebut usahanya mengembangkan ratusan pohon alpukat dengan berbagai varietas, di antaranya Markus, Miki, Kelut, dan Aligator. Selain alpukat, kawasan ini juga ditanami durian, pisang Cavendish, serta melon hidroponik.

Menurut Suherman, budidaya alpukat relatif mudah dilakukan meski berada di wilayah yang dikenal kering. “Tanaman alpukat ini sangat mudah. Tinggal tanam dari bibit, setelah hidup cukup disiram tiga hari sekali,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, motivasi utama membangun kebun alpukat ini adalah kombinasi antara keuntungan ekonomi dan penghijauan. “Satu profit, dua penghijauan. Jadi dua-duanya dapat,” kata Suherman.

Wilayah Situbondo selama ini kerap dianggap kurang cocok untuk alpukat. Namun Suherman justru ingin mematahkan anggapan tersebut.

“Di sini daerahnya gersang. Dulu orang Situbondo berkeyakinan alpukat itu bisa tumbuh tapi tidak berbuah. Ini saya jadikan contoh bahwa di Situbondo alpukat juga bisa berbuah,” ujarnya.

Saat ini, SGF memiliki sekitar 450 pohon alpukat. Setiap pohon rata-rata mampu menghasilkan hingga 50 kilogram buah, dan pada usia lebih matang dapat mencapai satu kuintal per pohon.

“Kalau sudah besar, satu pohon bisa menghasilkan sampai satu kuintal. Nilainya bisa sekitar tiga juta rupiah per pohon,” kata Suherman.

Konsep agrowisata menjadi keunggulan utama SGF. Pengunjung dapat memetik buah langsung dari pohon. “Per hari bisa panen satu sampai dua kuintal. Pembeli datang sendiri dan metik sendiri. Itu produk kami yang tidak tertandingi,” ujarnya.

Harga alpukat di SGF dipatok tetap Rp30.000 per kilogram, lebih murah dibanding harga pasar yang bisa mencapai Rp50.000. “Harga ini tetap, tidak naik dan tidak turun. Ini sudah yang termurah di pasaran,” kata Suherman. 

Untuk sementara, hasil panen di lokasi ini belum dikirim ke luar daerah karena difokuskan pada agrowisata.

Selain alpukat, SGF juga menanam sekitar 100 pohon durian yang diperkirakan mulai berbuah setelah empat tahun. Pola tanam tumpangsari diterapkan dengan menanam pisang Cavendish di sela-sela pohon alpukat. “Sekali dayung dua tiga pulau,” ujar Suherman.

Sementara itu Mas Rio menegaskan pemerintah daerah mendukung penuh pengembangan agropreneur semacam ini. Ia menyebut Situbondo masih memiliki banyak lahan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif sekaligus destinasi wisata.

“Tidak ada tiket masuk di sini. Gratis. Orang bisa belanja, rekreasi sekaligus belajar pertanian,” pungkas Mas Rio.[]

Terkini